Jumat, 10 Oktober 2014

DARUT TAUHID SURAH HUD AYAT 61



TUGAS KELOMPOK                                                 DOSEN PEMBIMBING
TAFSIR TARBAWI                                           MIFTAH ULYA, MA


SURAH HUD AYAT 61
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEit_NsS_OxX07fv7-uHnMXSk_d42hhsj8n3Kxg5rJPCmVvQ9DHls2gBg1ey20bv1nVO99LQNAxBA6gI_MC3E3kyPGlVC1KMLTy6RkZclet-0F8VpU_1OgZWXAdXupGhvitVVDF2xz1N5Gc/s1600/images.jpeg

KELOMPOK: III
MAHYUDIN
LAHMUDDIN
KHOIRUZZAMAN
ZUL FAHMI
DESNITA

SEMESTER IIIb
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DINIYAH PEKANBARU-RIAU TAHUN 2014 M/1435 H

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah swt, karena berkat rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah Surah Huud 61. Shalawat beserta salam  semoga tercurah limpahkan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW. Tujuan dibuatnya makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Tafsir Tarbawi
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas matakuliah ini, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami, umumnya bagi siapa saja yang membacanya. Amiin...
Kami menyadari dalam penyususnan makalah ini banyak sekali kesalahan dan kekhilapan, oleh karena itu kami mengharapkan saran dan krtik dari para pembaca demi perbaikan makalah kami selanjutnya.



Pekanbaru, 09 Oktober 2014

Khoiruzzaman     
Penulis            









i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................

BAB I  PENDAHULUAN
Latar Belakang...................................................................................................... 1
Rumusan Masalah................................................................................................. 1
Tujuan Penulisan................................................................................................... 2
Metode Penulisan.................................................................................................. 2

BAB  II  PEMBAHASAN
Pengertian.............................................................................................................. 3
Mufrodat............................................................................................................... 5
Sejarah/Asbabun Nuzul......................................................................................... 6
Kaitannya Dengan Pendidikan............................................................................. 6

BAB III  PENUTUP
Kesimpulan............................................................................................................ 7
Saran...................................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 8










BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Hadis Nabi saw telah disepakati oleh mayoritas ulama dan umat Islam sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah kitab suci al-Qur’an. Berbeda dengan al-Qur’an yang semua ayat-ayatnya disampaikan oleh Nabi saw secara mutawatir dan telah ditulis serta dikumpulkan sejak zaman Nabi saw masih hidup, serta dibukukan secara resmi sejak zaman khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, sebagian besar hadis Nabi saw tidaklah diriwayatkan secara mutawatir dan pengkodifikasiannya pun baru dilakukan pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis, salah seorang khalifah Bani Umayyah. Hal yang disebutkan terakhir, didukung oleh beberapa faktor lainnya, oleh sekelompok kecil (minoritas) umat Islam dijadikan sebagai alasan untuk menolak otoritas hadis-hadis Nabi saw sebagai hujjah atau sumber ajaran Islam yang wajib ditaati dan diamalkan. Dalam wacana ilmu hadis, dikenal dangan kelompok inkar al-sunnah.
Secara paradigma pemikiran dan pemahaman, sejarah inkar Sunnah memang sangat erat dengan golongan Khawarij, Muktazilah, dan Syiah .Dan dari segi benih kemunculan, mereka sudah tampak sejak masa sahabat. Bahkan, kabar tentang akan adanya orang yang mengingkari Sunnah sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
B.     Rumusan Masalah
A.    Bagaimana pengertian surah Huud ayat 61?
B.     Apa hubungan surah Huud ayat 61 dengan pendidikan?






C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah :
A.    Menggali informasi mengenai Tafsir Tarbawi.
B.     Melengkapi salah satu tugas mata kuliah.
C.     Menyampaikan arti Surat yang sesuai dengan Ajarannya.
D.    Sebagai  pengetahuan untuk umat manusia supaya bisa menjalankan sunnah rasul tentang keberadaan Qur’an dan Hadist.
E.     Mencari sumber informasi untuk dapat menerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Rasulullah yang menjalankan Sunnahnya.

D.    Metode Penulisan
Adapun metode penulisan makalah ini penyusun menggunakan metode library dan internet searching, yang mana dalam penyusunan makalah ini penyusun menggunakan refrensi yang diperoleh dari perpustakaan dan hasil pencarian di internet yang sesuai dengan pembahasan makalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Tugas manusia dimuka bumi ini tidak lain adalah untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri lebih-lebih lingkungan-nya sebagai tempat tinggal dan menetap. Sebagaimana terurai di dalam al-Qur’an surat Huud ayat 61 :

Artinya : Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do’a hamba-Nya).”(Huud: 61). 

ISI KANDUNGAN AYAT (IBN KATSIR)
      و (dan) sungguh kami telah mengutus إِلَى ثَمُودَ (Kepada Tsamud) merekalah yang dahulu bertempat tinggal di kota-kota alhajar antara tabuk dan madinah. Mereka adalah generasi setelah aad. Maka Allah mengutus dari mereka أَخَاهُمْ صَالِحًا (saudara mereka Shalih). Dia memerintahkan mereka agar beribadah kepada Allah saja. Untuk itu Ia berkata هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ (Allah telah menciptakan kamu dari bumi (tanah). Maksudnya, Allah memulai penciptaan kalian dari tanah, dari tanah itulah diciptakanNya Adam, bapak kalian وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا (dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya) maksudnya Allah menjadikan kamu sebagai pemakmur, penduduk yang meramaikan bumi dan memanfaatkannya. فَاسْتَغْفِرُوهُ (karena itu mohonlah ampunan kepadaNya) untuk dosa-dosamu yang telah lalu. ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ (kemudian bertaubatlah kepadaNya) pada apa yang akan kamu hadapi. Sesungguhnya Rabbku amat dekat rahmatNya lagi memperkenankan doa hambanya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al_Baqarah 186:
      “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186). 

PENJELASAN REFERENSI LAIN
Maksud dari ayat ini, manusia yang dipercaya oleh Allah sebagai khalifah itu bertugas memakmurkan atau membangun bumi ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskan (Allah). Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah.
Maksud dari manusia sebagai pemakmur bumi adalah; karena manusia itu diciptakan dari tanah yang diambil dari bumi, maka sepatutnya manusia yang bahan utamanya adalah tanah untuk menjaga dan memakmurkannya, sebagai tanda penghargaan atas asal-usul penciptaan mereka. Dengan kekuasaan yang diberikan kepadanya, manusia harus mampu menjaga amanah yang diberikan Allah kepada mereka dalam hal-hal yang menyebabkan bumi itu tetap terjaga dan makmur. Sebaliknya, jika manusia itu dengan kekuasaannya merusak dan menyalah gunakan kekuasaan yang diamanahkan kepadanya, maka secara tidak langsung manusia itu telah menghina asal-usul dari mana mereka diciptakan (tanah).Allah SWT memperhatikan eksistensi manusia di muka bumi, setelah mempeoleh cukup pengetahuan maka Allah SWT menempatkan manusia sebagai eksistensi yang kreatif, sebagaimana termaktub dalam surat Hud ayat 61 “Dan Dia yang menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menugaskan kamu untuk memakmurkan.”
Atas dasar surat huud 61 ini, Quraish Shihab menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan immaterial (akal dan jiwa). Pembinaan akalnya menghasilkan ilmu. Pembinaan jiwanya menghasilkan kesucian dan etika, sedangkan pembinaan jasmaninya menghasilkan keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah mahluk dwidimensi dalam satu keseimbangan, dunia dan akhirat, ilmu dan iman. Dasar pemikiran di atas tentu saja menuntut umat manusia untuk menempatkan aspek penguasaan ilmu pengetahuan menjadi penting. Pendidikan dalam hal ini, tidak saja menjadi rekomendasi Islam yang bersifat normatif-doktriner, tetapi juga menjadi investasi bagi umat manusia untuk menentukan masa depannya, baik jangka pendek (dunia) maupun jangka panjang (akhirat).

B.     Mufrodat

Kalimat
Arti
Kalimat
Arti
وَإِلَىٰ
dan kepada
أَنْشَأَكُمْ
Menciptakan kamu
ثَمُودَ
Tsamud
مِّنَ
dari
أَخَاهُمْ
Saudara mereka
الْأَرْضِ
bumi
صٰلِحًا
Saleh
وَاسْتَعْمَرَكُمْ
dan dia memakmurkan kamu
قَالَ
Dia berkata
فِيهَا
di dalamnya
يٰقَوْمِ
Hai kaumku
فَاسْتَغْفِرُوهُ
maka mohon ampun kepadanya
اعْبُدُوا۟
sembahlah
ثُمَّ
kemudian
اللّٰـهَ
allah
تُوبُوا
bertaubatlah
مَا لَكُم
tidak ada bagi kamu
إِلَيْهِ
kepadanya
مِّنْ
dari
إِنَّ
sesungguhnya
إِلَهٍ غَيْرُهُ
Tuhan selain Dia (Allah)
رَبِّى
tuhanku
هُوَ
dia
قَرِيبٌ مُجِيبٌ
amat dekat (rahmat Allah)  lagi memperbenarkan doa hambanya


C.    Sejarah/ Asbabun Nuzul
Setelah selesai kisah Aad kini giliran kisah suku Tsamud. Tsamud juga merupakan satu suku terbesar yang telah punah. Mereka adalah keturunan Tsamud Ibnu Jatsar, Ibnu Iram Ibnu Sam, Ibnu Nuh. Dengan demikian silsilah keturunan mereka bertemu dengan Ad pada kakek yang sama yaitu Imran.Kaum Tsamud pada mulanya menarik pelajaran berharga dari pengalaman buruk kaum Ad, karena itu mereka beriman kepada Allah SWT. Pada masa itulah, merekapun berhasil membangun peradaban yang cukup megah, tetapi keberhasilan itu menjadikan mereka lengah sehingga mereka kembali menyembah berhala serupa dengan berhala yang disembah kaum Ad. Ketika itulah Allah mengutus Nabi Shaleh as mengingatkan mereka agar tidak mempersekutukan Allah tetapi tuntunan dan peringatan beliau tidak disambut baik oleh mayoritas kaum Tsamud.Ayat ini mengandung perintah yang jelas kepada manusia --langsung maupun tidak langsung-- untuk membangun bumi dalam kedudukannya sebagai khalifah, sekaligus menjadi alasan mengapa manusia harus menyembah Allah SWT semata-mata.

D.    Kaitannya Dengan Pendidikan
Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:
1.      Mewujudkan seorang hamba yang shaleh
2.      Mewujudkan akan keesaan Tuhan
3.      Mewujudkan manusia yang ahli do’a
4.      Menunjukkan akan luasnya ilmu Tuhan







\





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Allah mengutus Nabi Shaleh as mengingatkan mereka agar tidak mempersekutukan Allah tetapi tuntunan dan peringatan beliau tidak disambut baik oleh mayoritas kaum Tsamud.
2.      Ayat 61 surat huud ini mengandung perintah yang jelas kepada manusia --langsung maupun tidak langsung-- untuk membangun bumi dalam kedudukannya sebagai khalifah, sekaligus menjadi alasan mengapa manusia harus menyembah Allah SWT semata-mata.
3.      Tugas manusia di bumi ini sebagai pemakmur yaitu untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri lebih-lebih lingkungan-nya.
4.      Tujuan pendidikan adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.

B.     Saran
1.      manusia harus menyembah Allah SWT semata-mata. Kita jangan pernah mensekutukanNya.
2.      Marilah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya.
5.      Mari sama-sama membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah.





















DAFTAR PUSTAKA

Tafsir Ibn Katsir
http://nawasains-study.blogspot.com/
http://idiaprenduan.com/islam-manusia-dan-lingkungan-alam/
http://ahmadrajafi.wordpress.com/2009/02/03/kewajiban-manusia-memelihara-dan-memakmurkan-alam/
http://tristiono.wordpress.com/2009/03/16/tafsir-al-quran-part-1/
http://ilmutuhan.blogspot.com/2009/05/ujian-tengah-semester-i-pprogram-pasca.html
http://miftah19.wordpress.com/2010/01/23/konsep-pendidikan-islam-yang-ideal/
http://hamdillahversache.blogspot.com/2011/10/kumpulan-tafsir-tarbawi.html